• Jelajahi

    Copyright © TROPONG.ONLINE
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    SD Negeri 015893, Desa Air Putih Meranti Sangat Memprihatinkan Tak Ada Perhatian Dari Pemerintah

    Tropong.online
    Sabtu, 20 Juni 2026, Juni 20, 2026 WIB Last Updated 2026-06-21T05:57:24Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    ASAHAN – TROPONG _ Perbedaan wajah pendidikan di Kabupaten Asahan terlihat sangat mencolok. Di pusat kota, bangunan sekolah berdiri kokoh, lengkap dengan fasilitas modern, dan menciptakan suasana belajar yang nyaman. Namun, jauh di kawasan pedesaan, gambaran yang sangat berbeda terlihat: gedung sekolah lapuk, rusak parah, dan nyaris tidak layak pakai.

     

    Kondisi paling memiriskan terjadi di SD Negeri 015893, Desa Air Putih, Kecamatan Meranti. Kerusakan sudah terdeteksi sejak tahun 2020. Saat itu hanya satu ruang kelas yang mengalami keretakan dan kebocoran. Namun, karena tidak ada perbaikan yang dilakukan, kerusakan perlahan menyebar hingga ke seluruh ruang belajar, perpustakaan, dan bagian atap utama.

     

    Kini, atap dan plafon sekolah sudah sangat rapuh dimakan usia. Banyak bagian yang terkelupas dan siap runtuh kapan saja. Ruang perpustakaan yang seharusnya menjadi jendela ilmu justru terbengkalai sejak dibangun—tidak pernah diisi buku maupun alat penunjang, sehingga kondisinya ikut rusak parah dan tidak bisa dimanfaatkan.

     

    Kepala Sekolah, Hamidah, Jumat (19/6/2026) kepada Wartawan menyampaikan, bahwa laporan dan permohonan bantuan sudah disampaikan berulang kali ke Dinas Pendidikan. Bahkan tahun lalu sempat ada pihak yang mengaku mewakili jajaran pemerintah datang meminta dokumen usulan, namun hingga kini tidak ada kabar jelas dan tidak ada bantuan yang tiba.

     

    Di tengah keterbatasan ini, guru dan siswa tetap berusaha melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Saat hujan turun, air merembes deras masuk ke ruangan, memaksa siswa berpindah tempat duduk atau bahkan bergabung ke ruangan lain yang kondisinya sedikit lebih baik. Setiap hari, mereka belajar dalam suasana yang dibayangi rasa takut akan bahaya runtuhan bangunan.

     

    Salah satu siswa, Juliana Gultom, mengaku tidak bisa berkonsentrasi penuh. “Saat belajar, pikiran sering terbagi. Takut atap di atas kepala tiba-tiba jatuh, apalagi kalau angin dan hujan kencang,” ujarnya. Akibat kondisi ini, jumlah murid baru pun terus menurun drastis karena orang tua khawatir akan keselamatan anaknya.

     

    Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa pemerataan fasilitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Membangun dan memperbaiki sekolah bukan sekadar memperindah bangunan, melainkan menjamin hak dasar anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan aman. Semoga seruan ini segera didengar, agar masa depan generasi Asahan tidak terus terhambat oleh gedung yang rusak. (red) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini